Menggadai Tahta, Demi Harta, Sampai ke Negeri Cina

 

1
Sumber: Shutterstock.com

Dahulu, atau mungkin sampai sekarang, kita mengenal tanah Inggris adalah kiblat sepakbola dunia, di mana pemain sepakbola professional bermimpi untuk bias mengarungi kerasnya Liga Inggris. Eksodus pemain-pemain asing dari seluruh penjuru dunia, bahkan sampai dari negara yang kita asing mendengarnya: Curacao, Armenia, Trinidad dan Tobago, mewarnai jalannya Liga Inggris. Mereka pergi jauh-jauh ribuan mil dari tempat tinggal mereka demi karirnya, demi kebanggaan menjadi bagian dari kesebelasan-kesebelasan terbaik, demi bermain satu klub atau menjadi lawan dari pemain-pemain bintang yang sudah ada sebelumnya. Keadaan itu jauh sebelum sepakbola mulai bermandikan uang. Saat miliader mulai menyuntikkan dana ke sebuah klub, sejarah baru dimulai.

Banyaknya pemain asing berdampak buruk bagi tim nasional Inggris. Salah satunya adalah minimnya pemain muda yang berpengalaman, karena kesebelasan di Liga Inggris banyak dihuni pemain asing. Begitupun dengan pelatih, hanya ada tiga dari dua puluh pelatih yang merupakan warga negara Inggris (England). Mungkin, hasil referendum yang menyatakan Inggris keluar dari Uni Eropa akan berdampak baik bagi tim nasional Inggris karena mempersulit pemain asing untuk berkarir di Inggris.

Ketika uang lebih menarik daripada trofi dan medali

 

Biasanya, seorang bintang sepakbola akan menghabiskan karirnya di klub-klub papan atas, dan mengakhirinya di klub-klub kecil. Seperti David Beckham, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan Thierry Henry yang mengakhiri karirnya di Amerika Serikat. Atau, Raul Gonzalez dan Xavi Hernandez yang menikmati sepakbola di Timur Tengah. Didier Drogba dan Nicolas Anelka yang sempat mengarungi negeri Tirai Bambu. Namun, apa jadinya jika seorang pemain sepakbola, apalagi dari liga-liga papan atas, memilih untuk bermain di liga-liga ‘pensiunan’ tersebut pada usia produktifnya?

Seperti yang sekarang banyak terjadi, Tiongkok seolah menjadi tujuan utama bagi pemain yang menginginkan uang. Dengan iming-imingan gaji yang sangat besar dan nilai transfer yang menguntungkan bagi klub pemain tersebut, tampaknya sangat sulit ditolak. Pemain-pemain yang rela menggadaikan masa depan mengangkat trofi Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Italia, Liga Champions Eropa, Piala Super, dan lain-lain demi gaji dan harta yang tak dibawa mati. Apa spesialnya mengangkat trofi Liga Super Tiongkok? Atau Piala Tiongkok? Mengibarkan bendera negara asal dan merayakan kemenangan di tanah yang tidak punya sejarah sepakbola, kecuali sejarah sepakbola Tiongkok, sepertinya mereka harus bisa pura-pura bahagia.

Dimulai pada tahun 2015, gelandang Tottenham Hotspur, Paulinho bergabung dengan Guangzhou Evergrande dengan mahar 14 juta euro. Selanjutnya ada Gervinho yang hijrah dari Roma menuju kota Hebei. Jackson Martinez yang memilih melupakan trofi-trofi yang akan didapatkannya bersama Atletico Madrid dan memilih bergabung dengan Guangzhou Evergrande dengan nilai transfer yang tidak main-main: 42 juta euro. Dua hari kemudian, Alex Teixeira bergabung dengan Jiangsu Suning dari Shakhtar Donetsk, dengan harga 50 juta euro. Sebelumnya, gelandang Chelsea yang berperan penting dalam proses klubnya menjuarai Liga Champions pada 2012, Ramires, bergabung dengan klub tersebut dengan harga 25 juta euro. Pemain-pemain top dari liga-liga Eropa semuanya berlabuh ke negeri Tiongkok dalam usia produktifnya.

Dilanjutkan dengan Graziano Pelle (ke Shandong Luneng), Demba Ba (ke Shanghai Shenhua) yang disusul duetnya semasa di Newcastle United, Papiss Cisse yang akan berduet dengan Graziano Pelle di Shandong Luneng. Lalu ada Fredy Guarin, Ezequiel Lavezzi, dan Hulk. Gajinya pun tak main-main. Tercatat dari 15 gaji pesepakbola terbesar 2016, ada 3 pemain dari Liga Super Tiongkok. Yaitu Hulk (320.000 euro per pekan, setara dengan 4,5 miliar rupiah per pekan), Graziano Pelle (260.000 euro per pekan, setara dengan 3,6 miliar rupiah per pekan), dan Asamoah Gyan (227.000 euro per pekan, setara dengan 3,2 miliar rupiah per pekan). Dan ada empat transfer ke Tiongkok dari daftar 50 transfer termahal dunia. Bahkan, pada 2017 mendatang, Oscar dos Santos siap merapat ke Shanghai SIPG dengan harga 60 juta euro disusul Carlos Tevez yang bergabung dengan Shanghai Shenhua. Gaji Tevez dan Oscar masing-masing langsung mengisi pos urutan pertama dan kedua gaji pesepakbola terbesar. Luar biasa.

Ternyata, bukan hanya pemain bintang, ternyata juga ada beberapa pelatih ternama yang menjadi nahkoda dari klubnya masing-masing. Luiz Felipe Scolari, Andre Villas-Boas, Gustavo Poyet, Manuel Pellegrini, Felix Magath, dan legenda timnas Italia, Fabio Cannavaro melengkapi eksodus bintang-bintang sepakbola ke negeri ini. Tentu kita bertanya, apa menariknya liga Tiongkok? Pemain-pemain yang masih bisa berkembang seperti Oscar, Alex Teixeira, dan Paulinho pun lebih memilih Tiongkok dibanding harus melanjutkan karirnya di kesebelasan Eropa yang lain. Sepakbola sudah dimabuk uang, kesetiaan, kecintaan kepada klub sudah mengabur dan mulai menghilang, digantikan dengan uang, uang, dan uang. Kabarnya, mereka juga mulai mengincar wasit-wasit seperti Mark Clattenburg.

 

Bak Cerita Sangkuriang atau Roro Jonggrang

Dongeng Sangkuriang atau Roro Jonggrang sangat familiar di telinga orang Indonesia. Walaupun berbeda latar, tokoh, dan alurnya, inti dari dua cerita rakyat itu sama. Seorang putri yang ingin dinikahi memberi syarat yang sulit untuk dipenuhi, si pria pun menyanggupi dan mulai bekerja dengan bantuan para jin. Namun ketika syarat tersebut hampir terpenuhi, si putri malah berusaha menggagalkannya.

Liga Tiongkok yang dahulu ada dengan segala keterbatasannya, mau membangun sebuah ‘surga’ sepakbola dalam waktu semalam. Segala uang digelontorkan demi memikat pemain-pemain bintang, pelatih berprestasi, bahkan sampai ke wasit. Pemerintah Tiongkok tampaknya ingin mengalahkan Amerika Serikat dalam segala hal, termasuk sepakbola. Namun, kita tahu, bahwa segala sesuatu yang instan itu tidak baik. Mungkin, akan ada kehancuran pada imperium tersebut atau mungkin akan muncul Tiongkok-Tiongkok lain?

Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya memang butuh uang. Tak peduli sampai ada berapa digit jumlah gaji, memenangi sebuah trofi bergengsi tetaplah kebahagiaan tak terperi. Gaji di Tiongkok mampu membeli sebuah stadion, namun tidak dengan atmosfernya. Menjuarai berbagai trofi bergengsi dan namanya diabadikan oleh klub menjadi kebanggaan dan impian setiap pesepakbola. Namun, apa daya jika yang mereka butuhkan adalah uang. Itu pilihan mereka. Kebahagiaan mereka hanyalah sebatas duduk santai di pesawat pribadi, menaiki yacht, bersantai di villa mewah di pulau pribadi, berkendara dengan mobil sport atau limosin, berbalut baju-baju mahal dan berhias arloji berharga fantastis. Sementara jika di dalam lapangan, merayakan juara Liga Super Cina bersama dengan teriakan dan atmosfer yang tak seberapa dengan di Eropa,  mengenakan jersey yang kebangaannya hampir tidak ada untuk pemain Eropa, pura-pura menyatakan bahwa klub mereka adalah klub impiannya (kebohongan sepakbola terbesar), lalu pulang ke istana mewahnya, memandangi foto di mana mereka sempat merajai Eropa dan sadar, yang mereka miliki hanya uang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s