Indonesia Bukan Tim Underdog!

semifinal

Setelah harus pulang kampung lebih awal dalam dua edisi terakhir: 2012 dan 2014, akhirnya Indonesia kembali lagi memasuki babak semifinal Piala AFF. Memang, di Piala AFF 2016 ini Indonesia (lagi-lagi) tidak menggunakan skuad terbaiknya. Torabika Soccer Championship yang ‘egois’, hanya mengizinkan masing-masing dua pemain per klub untuk dipanggil ke timnas, membuat sang pelatih tentunya kebingungan menentukan pemain yang harus dipanggil jika klub tersebut mempunyai banyak pemain berkualitas. Seolah-olah seluruh jajaran petinggi klub lebih mementingkan TSC dibanding kesuksesan Indonesia di Piala AFF, sungguh seorang ‘nasionalis’ sejati. Ditambah lagi cederanya penyerang yang sedang subur-suburnya, Irfan Bachdim, yang terpaksa dicoret dari skuat.

Tentu, dengan kekuatan yang timpang ini, khalayak sepakbola Indonesia tidak terlalu berharap banyak dari performa timnas di ajang ini. Bermodalkan doa dan rangkaian persiapan, skuat Indonesia berangkat menuju Filipina, tuan rumah grup A. Indonesia yang baru lolos dari sanksi FIFA masuk ke dalam pot 4 dalam undian grup, artinya Indonesia berstatus sebagai underdog, tim kuda hitam, yang biasanya dalam Piala AFF sebelumnya hampir selalu menjadi ladang gol. Biasanya, penghuni pot 4 merupakan dua negara yang menjadi peringkat dua teratas di babak kualifikasi. Namun, format Piala AFF 2016 berubah dengan hanya memberi jatah satu negara peserta kualifikasi untuk ikut serta, yaitu yang menjuarai babak tersebut.

Di grup A, ada dua negara yang merupakan pemegang gelar juara terbanyak, yaitu Thailand dan Singapura. Serta negara tuan rumah yang kekuatannya pun tidak bisa dianggap remeh: Filipina. Sulitnya grup Indonesia tak terlepas dari status “pot 4” yang disandang oleh Indonesia akibat sanksi FIFA. Indonesia langsung menghadapi sang juara bertahan, Thailand, di laga pertama. Indonesia harus kalah 4-2 di laga tersebut, meskipun Lerby Eliandry sempat memberi harapan untuk menyulitkan Thailand dengan mencetak gol penyeimbang menjadi 2-2. Selanjutnya, Indonesia berhadapan dengan tuan rumah, Filipina. Tentu masih ingat ketika dua tahun yang lalu, Filipina tampil begitu trengginas, mencukur Indonesia 4-0. Dari laga tersebut, terlihat bahwa barisan belakang Indonesia sering mengalami missed communication. Gol Misagh Bahadoran yang berdiri bebas menyambut tendangan bebas Stephan Shrock serta pelanggaran yang tidak perlu oleh Zulham Zamrum berbuah tendangan bebas bagi Filipina yang dengan cantik dieksekusi oleh Philip Younghusband.

Menakar Kans untuk Lolos

Seusai laga tersebut, secara kasat mata, peluang Indonesia untuk lolos ke semifinal sudah tidak ada. Namun, kekalahan Singapura atas Thailand membuat asa untuk melaju itu kembali muncul. Singapura dan Indonesia sama-sama mengoleksi satu poin, Filipina mengoleksi dua poin, dan Thailand, yang sudah dipastikan lolos apapun skenarionya, mengoleksi 6 poin. Masih ada satu laga lagi yang akan menjadi laga hidup mati bagi tiga negara: Indonesia, Filipina, dan Singapura.

Skenario Indonesia agar lolos ke semifinal adalah Indonesia harus menang melawan Singapura dan Filipina kalah atau seri melawan Thailand. Skenario kedua sebenarnya hampir pasti terjadi, melihat kekuatan kedua tim yang berat sebelah. Namun, skenario pertamalah yang menjadi tantangan untuk diwujudkan. Walaupun kini Singapura sudah tidak segarang generasi Noh Alam Shah, api semangat untuk melaju ke semifinal masih membakar jiwa mereka. Kick off bersamaan, tepat jam 8 malam waktu Filipina, Philippines Sports Stadium di Bocaue dan Rizal Memorial Stadium di Manila menjadi saksi bisu ketegangan untuk berebut jatah terakhir masuk ke semifinal.

Singapura mendapatkan lemparan ke dalam yang dilempar cukup jauh, disundul oleh pemain Singapura, dan jatuh ke kaki Khairul Amri yang melepaskan tembakan voli jarak dekat yang mustahil untuk diselamatkan oleh Kurnia Meiga, 1-0 untuk Singapura. Pendukung Indonesia sudah mulai ketar-ketir, namun dukungan akan selalu ada. Lagu-lagu fans, nyanyian bonek, lantunan Garuda di Dadaku, begitu membahana di negeri seberang, mengiringi perjuangan punggawa tim nasional Indonesia. Babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk Singapura.

Permainan Indonesia, yang seperti biasa, seolah tanpa pola dan sangat berantakan. Aliran bola dengan mudah dihentikan oleh barisan Singapura yang unggul secara fisik dan teknik. Jika kita lihat dari peforma akhir-akhir ini, seharusnya Indonesia bisa menang dengan cepat. Kekalahan Singapura saat melawan Hong Kong dan Kamboja menunjukkan bahwa Singapura memang sudah tidak sekuat dahulu, namun generasi-generasi emas masih tetap menunjukkan kualitasnya. Sebut saja Hariss Harun, Faris Ramli, dan Safuwan Baharudin. Nama terakhir bahkan pernah bergabung dengan Melbourne City FC di A League Australia.

Sepuluh Menit Krusial

Babak kedua, akhirnya Indonesia bisa menyamakan kedudukan. Di menit ke-62, sepakan voli Andik Vermansyah menjebol gawang Hassan Sunny kembali membuat Indonesia bergairah. Rentetan serangan ke gawang Singapura pun bisa dihentikan dengan baik oleh barisan belakang Singapura yang rapi. Sementara di Bocaue, Sarawut Masuk mencetak gol kemenangan bagi Thailand atas Filipina pada menit ke-81. Akhirnya, hal yang paling ditunggu-tunggu tiba empat menit kemudian. Pada menit ke-85, pemain berdarah Belanda, Stefano Lilipaly berhasil mencetak gol kemenangan Indonesia akibat kesalahan bek Singapura saat mengantisipasi umpan silang Boaz Solossa. Pemain yang sempat ‘terabaikan’ oleh timnas Indonesia dan terkatung-katung saat memperkuat Persija Jakarta kini menjadi pahlawan bagi negeri leluhurnya, Indonesia.

Singapura langsung mengambil inisiatif menyerang. Terbukti setelah kick off, pemain-pemain Singapura langsung memasuki daerah pertahanan Indonesia. Solidnya pertahanan Indonesia, walaupun beberapa kali mengalami missed communication, ditambah dengan gemilangnya performa Kurnia Meiga di menit-menit akhir membuat Singapura harus angkat koper dari Filipina. Wasit Masoud Tufaylief asal Suriah akhirnya meniup peluit panjang, memisahkan ekspresi pemain-pemain Singapura dan Indonesia yang sama-sama angkat koper namun berbeda raut wajahnya.

indonesia-vs-singapore-copy

Tanggal 3 Desember 2016 nanti, Indonesia akan melawan juara grup B masih diperebutkan oleh Myanmar, Malaysia, dan Vietam. Indonesia akan bermain kandang terlebih dahulu. Stadion Gelora Bung Karno tidak akan dipakai karena sedang direnovasi untuk Asian Games 2018. Namun, dukungan-dukungan untuk Indonesia akan terus mengalir.

Ayo Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s