Ketika Semua Insan Berkabung untuk Sang Raja

 

king-bhumibol-adulyadej-net-worth1
Mendiang Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej

Seluruh masyarakat Thailand saat ini sedang dilanda rasa dukacita. Rasa berkabung menyelimuti hati seluruh insan Thailand yang kehilangan kepala negaranya. Bhumibol Adulyadej, sang Raja, meninggal dunia di Rumah Sakit Siriraj, Bangkok, pada usia 88 tahun. Beliau dirawat sejak bulan Agustus tahun 2015 akibat hidrosefalus dan infeksi paru-paru. Pada 13 Oktober 2016, pihak istana menyampaikan kabar dukacita ke seluruh penjuru negeri tentang wafatnya sang Raja bergelar Rama IX tersebut.

 

 

Raja Bhumibol Adulyadej yang lahir pada 5 Desemeber 1927 di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat memimpin negeri Gajah Putih mulai tanggal 9 Juni 1946 hingga wafatnya pada 13 Oktober 2016. Itu artinya, ia memimpin selama 70 tahun dan merupakan masa pemerintahan raja terlama di dunia pada era modern. Ia sebenarnya tidak ditakdirkan menjadi raja. Namun, revolusi tak berdarah yang menggulingkan Raja Prajadhipok (Rama VII) dan kematian kakaknya, Ananda Mahidol (Rama VIII) yang misterius membuat ia naik takhta pada usia 18 tahun. Ia adalah sosok yang begitu dicintai oleh rakyat Thailand. Ia  begitu merakyat dengan masyarakat dan juga mendukung kesejahteraan petani. Di bidang pendidikan, ia juga selalu menyempatkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk memberi gelar kepada lulusan-lulusan dari universitas-universitas negeri di Thailand. Ia juga adalah sosok yang tak takut dikritik dan membenci ungkapan “Raja tak pernah salah”, terlepas dari jabatannya yang merupakan orang nomor 1 di negeri itu.

 

Masa kecilnya dihabiskan di luar negeri, tepatnya di Swiss dan Amerika Serikat. Ia beberapa kali bolak balik Swiss-Thailand untuk menghindari hiruk pikuk di dalam negeri karena berbagai revolusi pemerintahan. Sebenarnya, kedudukan seorang raja di dalam pemerinatahan monarki hanyalah sebagai kepala negara dan tidak punya andil di dalam pemerintahan yang dipegang perdana menteri. Namun, ia dianggap sebagai orang yang paling mampu menjaga stabilitas sepanjang tahun 1973 hingga 1992, termasuk menghilangnya kudeta-kudeta militer. Beberapa kalangan pun menganggap ia adalah sosok setengah dewa hingga wafatnya ditetapkan oleh pemerintah sebagai masa berkabung selama satu tahun. Termasuk kewajiban mengenakan pakaian dukacita dan tayangan televisi yang seolah kembali ke era ’70-an, yang mewajibkan tayangan hitam putih di setiap tayangan.

 

Termasuk publik sepakbola Thailand. Belum lama, ketika Thailand berhasil menjuarai Piala AFF 2014, ada momen khusus yang dialami oleh seluruh pemain dan pelatih. Di laga final leg pertama, Thailand berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 2-0 di Bangkok. Namun, ketika menjalani leg kedua di Kuala Lumpur, Thailand seolah kehilangan taringnya. Tendangan bebas Safiq Rahim membuat skor menjadi 3-0 dan Malaysia unggul secara agregat. Namun, sang Raja secara khusus menelpon pelatih, Kiatisuk Senamuang, dan menjadi lecutan tersendiri bagi tim. Charyl Chappuis dan Chanatip Songkrasin mencetak gol di 10 menit terakhir, membuat skor menjadi 3-2 dan Thailand berhak menjadi juara dengan skor agregat 4-3. Masa berkabung satu tahun yang ditetapkan pemerintah menginfeksi semua aspek, termasuk sepakbola. Liga Thailand diberhentikan untuk melengkapi masa berkabung. Muangthong United yang memimpin klasemen dengan 80 poin ditetapkan sebagai juara liga. Army United, Nat Hornbill, dan BBC FC yang menempati posisi tiga terbawah juga ditetapkan untuk degradasi dan digantikan oleh Thai Honda, Ubon UMT, dan Port FC yang menjadi peringkat tiga teratas di divisi 2.

 

Piala Liga Thailand, yang mempertemukan Muangthong United dan Buriram United, juga diberhentikan dan pemenangnya ditentukan berdasarkan undian. Begitu juga semua kompetisi di sepakbola Thailand yang belum tuntas, semua diselesaikan dengan undian untuk menghormati wafatnya Sang Raja. Beberapa pertandingan internasional timnas Thailand pun banyak yang rencananya akan  dibatalkan. Termasuk laga melawan Australia pada 15 November mendatang yang dilaksanakan di Bangkok, rencananya akan tukar tempat menjadi di Australia atau di tempat netral.

 

Ia bukan hanya dicintai oleh rakyat Thailand, berbagai dari luar negeri serta organisasi-organisasi pun ia dapatkan. Termasuk Bintang Jasa Republik Indonesia pada 1961 dan gelar Doktor Honoris Causa yang ia dapatkan dari Universitas Gajah Mada pada 12 Februari 1960. Dan gelar-gelar kehormatan lainnya dari PBB, Uni Eropa, ASEAN, BWF, dan IOC. Namanya pula diabadikan menjadi nama dari berbagai tempat dan bangunan. Misalnya Bendungan Bhumibol di Provinsi Tak, Rumah Sakit Bhumibol dan Jembatan Bhumibol di Bangkok, Jalan Rama IX di Bangkok, dan nama bangunan fakultas seni music di Universitas Mahidol, Nakorn Pathom. Namanya juga bergaung hingga ke tempat kelahirannya di Amerika Serikat, di mana namanya diabadikan menjadi King Bhumibol Adulyadej Square di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

 

Jika kita lihat dari prestasi dan penghargaannya di mata rakyat Thailand, Raja Bhumibol merupakan sosok yang patut diteladani. Ia juga merupakan sosok mediator yang baik, membuat ia begitu dicintai oleh rakyat. Ia memiliki empat orang anak, namun hanya satu yang laki-laki yang sudah dilantik menjadi Putra Mahkota pada tahun 1972. Maha Vaijralongkorn, yang akan menggantikan peran sang ayah dan akan bergelar Rama X, meskipun ia belum terlalu disukai oleh rakyat Thailand sebagaimana sang ayah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s