Hoppípolla dan Euforia Islandia

147451050_2dfb47191b_z
Islandia

Bola itu memang bundar, dan ungkapan itu tepat jika digunakan di Euro 2016 ini. Tercatat ada 5 tim yang baru pertama kali ikut serta di kompetisi sepakbola antar negara Eropa tersebut. Yaitu Slovakia, Islandia, Wales, Irlandia Utara, dan Albania. Hebatnya lagi, 4 negara pertama lolos ke babak 16 besar. Entah mereka memang seperti Daud yang melawan Goliat atau mereka kebetulan hanya bertemu dengan sesama negara yang tidak terlalu kuat, mengingat banyaknya pertandingan penuh tensi yang sudah terjadi sebelum semi final.

 

Dari 16 besar, hanya 2 tim debutan yang mampu melaju ke perempatfinal. Yaitu Islandia dan Wales. Performa Wales hingga dapat melaju ke perempatfinal walaupun berstatus debutan masih terhitung wajar. Pasalnya, tim nasional Wales banyak diperkuat pemain bintang seperti Aaron Ramsey, Joe Allen, Sam Vokes, dan pemain termahal dunia, Gareth Bale. Sementara, pemain tim nasional Islandia berpencar ke Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, dan Denmark. Hanya 1 pemain yang bermain di EPL yaitu Gylfi Sigurðsson yang bermain di Swansea City.

 

Islandia, negara yang terletak jauh di sebelah utara benua Eropa. Pulau kecil yang terisolir dan berseberangan dengan Greenland yang merupakan teritorial Kerajaan Denmark. Berpenduduk hanya sekitar 300.000 jiwa dengan kepadatan 3 orang/km persegi membuat banyak orang berfikir keberadaan Islandia di sepakbola Eropa hanyalah pelengkap dan ladang gol. Namun, dongeng sepakbola Islandia telah dimulai sejak 2013. Dalam kualifikasi Piala Dunia 2014, Islandia tergabung ke dalam grup E dan finis di peringkat ke-2 di bawah Swiss. Sehingga, untuk melaju ke putaran final Piala Dunia harus melalui babak play off. Islandia takluk dengan agregat 2-0 dari Kroasia setelah mampu menahan imbang 0-0 di Reykjavík. Lalu di tahun 2014, Islandia tergabung di grup A kualifikasi Euro 2016. Islandia finis di peringkat kedua dan berhak melaju ke putaran final Euro 2016 untuk kali pertama. Dari situlah sejarah Strákarnir okkar dimulai.

 

Pada Suatu Hari….

“Hoppípolla. I engum stígvélum…”

Hoppípolla, begitulah judul lagu band rock asal Islandia, Sigur Rós, yang artinya kurang lebih “melompat ke dalam kubangan”. Lirik lagunya hanya menggambarkan kenangan anak-anak yang bermain, melompat ke air, mimisan, lalu bangkit dan bermain lagi.Terdengar aneh, dan memang aneh, ditambah bahasa lagunya yang terdengar asing di telinga orang Indonesia. Bahasa Islandia ditambah Vonlenska, kata-kata yang tidak ada artinya yang diciptakan oleh sang vokalis, Jónsi Birgisson. Lagunya memang selalu mengutamakan perasaan dari tiap individu yang mendengarnya, karena memang Vonlenska tidak bisa dipahami, bahkan oleh orang Islandia sendiri. Seperti kita menilai sebuah lukisan, tentu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Lagu itu sendiri dirilis pada 28 November 2005 dan meraih peak position di posisi ke-24 di Inggris (Official Charts Company)

 

Seperti tiada tekanan, begitu makna dari lagu tersebut. Seperti penunjukkan Lars Lagerbäck pada 2011 yang tidak terlalu dibebani target yang tidak realistis. Lars Lagerbäck sempat menelan 7 kekalahan di 8 laga pertamanya. Namun, KSI tetap mempercayakan segalanya kepada pria Swedia tersebut. Brosandi, begitulah kata pembuka di lagu Hoppípolla yang artinya tersenyum. Senyuman tanda tiada tekanan di kepala.

 

Tidak ada target bukan berarti tidak ada perencanaan. Knattspyrnusamband Íslands (KSI) yaitu badan tertinggi sepakbola Islandia (semacam PSSI) merencanakannya sejak 2002. Cuaca dingin yang berkisar dari -3°C sampai 13°C rasanya lebih baik menghangatkan diri di rumah sambil minum coklat panas. Namun, KSI mensiasatinya dengan pembangunan lapangan sepakbola indoor. Berkat itu semua, semua bisa bermain sepakbola sepanjang tahun entah musim panas atau dingin. KSI juga melakukan kerjasama dengan UEFA untuk pelatihan calon-calon pelatih. Pelatih berlisensi UEFA Pro, UEFA A, dan UEFA B pun mulai menjamur. Pelatih klub harus berlisensi UEFA A dan asistennya UEFA B. Bahkan, untuk tim junior harus berlisensi UEFA A. Pemain usia belia pun mulai hijrah dan merantau ke dataran Eropa. Kolbeinn Sigþórsson, penyerang FC Nantes, dan Aron Gunnarsson, sang kapten tim Islandia bergabung dengan akademi AZ Alkmaar pada usia 17 tahun. Gylfi Sigurðsson bergabung dengan akademi Reading di usia 16 tahun. Sementara Jóhann Berg Guðmundsson bergabung dengan akademi Chelsea 16 tahun, lalu pindah ke akademi Fulham pada usia yang sama sampai usia 17 tahun.

 

Og ég fæ blóðnasir. En ég stend alltaf upp

“Aku mimisan namun aku bangkit lagi”

Mimisan, atau bisa kita analogikan sebagai kekalahan tidak dialami sekali atau dua kali oleh Islandia. Lars menanam bibit dan membangun fondasi untuk Islandia sejak 2011. Tentu tidaklah sekali langsung berhasil, pasti ada banyak trial and error dalam masa kepelatihannya. Pada 2013, ia didampingi oleh seorang Islandia, Heimir Hallgrímsson untuk bersama-sama meracik strategi. Heimir bukanlah asisten pelatih lagi, ia, atau mereka berdua bersama-sama berstatus “coach”. Heimir sendiri sebelumnya menjadi asisten Lars sejak 2011. Sosok ‘dwitunggal’. Begitulah bisa digambarkan peran mereka.

 

Apa yang di tanam sejak 2002 sebenarnya hampir terealisasikan pada 2014 lalu. Di mana Islandia berhasil melaju ke babak play off untuk keikutsertaan di Piala Dunia 2014. Islandia berhasil menahan imbang 0-0 pasukan Kroasia di Reykjavík, namun takluk 2-0 di Zagreb. Tidak perlu berlama-lama, Islandia dalam kualifikasi Euro 2016 tergabung di grup A berhasil menaklukkan Belanda 2 kali, kandang dan tandang. Serta hanya 2 kali kalah, dari Republik Ceko dan Turki.

 

Performa Islandia di Euro 2016 pun terbilang luar biasa untuk statusnya. Hanya meraih hasil imbang saat melawan Portugal dan Hungaria dengan skor 1-1, di laga terakhir, kebahagiaan memuncak. Arnór Traustason membuat publik Islandia berteriak kegirangan setelah golnya di masa injury time, detik-detik terakhir pertandingan memastikan kemenangan Islandia atas Austria dan berhak lolos ke babak 16 besar bertemu pasukan Inggris. Banyak pihak menilai, babak 16 besar adalah puncak tertinggi yang mampu diraih Islandia menginat lawannya adalah Inggris yang dibanjiri talenta-talenta muda berkualitas. Sebelum laga dimulai, referendum Brexit dimenangkan oleh pro British Exit, yang artinya Inggris Raya keluar dari Uni Eropa. Dan benar saja, Inggris secara mengejutkan takluk 1-2. Penalti Wayne Rooney di menit ke-4 langsung dibalas oleh Ragnar Sigurðsson pada menit ke-6. Dan di menit ke-18, penyerang Kolbeinn Sigþórsson membuat Islandia berbalik unggul dan mempertahankannya hingga menit ke-90. Di akhir laga, kapten Aron Gunnarsson memimpin chants ‘viking’ dan membuat merinding siapapun yang mendengarnya. Jauh lebih berkelas dibanding Hooligan Inggris yang hanya mampu tawuran namun bisa dihajar oleh supporter Rusia.

 

Akhir Cerita dan Panen Raya

Di babak perempatfinal, Islandia berjumpa dengan tuan rumah, Prancis. Di sini, berakhirlah dongeng tentang negeri itu. Dilumat 4-0 di babak pertama dan akhirnya laga selesai dengan skor 5-2. Sang presiden, Ólafur Ragnar Grímsson menonton rakyatnya dari tribun biasa, bukan tribun VIP. Dan, sekali lagi, salam Viking yang disorakkan serentak bak menyambut pahlawan.

 

Apa yang ditanam KSI, dirawat oleh Lars Lagerbäck hingga berbuah, dan dituai oleh Heimir Hallgrímsson, seorang dokter gigi yang merangkap sebagai pelatih dan mampu membunuh tiga ekor singa. Sekarang, tim nasional Islandia telah menerima buah dari pembinaan pemain muda, pelatih, dan pembangunan lapangan sepakbola indoor sejak 2002. Negeri yang terisolir oleh laut tersebut tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.

 

Kebetulan, hari ini 7 Juli 2016 jam 22.58 Jakarta sedang diguyur hujan cukup deras. Mendengarkan lagu Hoppípolla sambil memejamkan mata dan tergambar hamparan tanah Islandia yang dingin atau Aron Gunnarsson dan kawan-kawan yang sedang pawai dan disambut bak pahlawan.

Brosandi. Hendumst í hringi, höldumst í hendur. Allur heimurinn óskýr, nema þú stendur…..

Smiling. Spinning ’round and ’round, holding hands. The whole world a blur, but you are standing…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s