Serba Inggris di Parc des Princes

hi-res-52b699a28a209c18e63cc45e45f1b897_crop_north
Pemain Wales, Sam Vokes (18) berduel dengan pemain Irlandia Utara, Gareth McAuley (4)

Euro 2016 telah masuk ke penyisihan, lebih tepatnya babak 16 besar. Edisi 2016 merupakan yang pertama kalinya, ada babak 16 besar di kejuaraan sepakbola antar negara Eropa tersebut, yang sebelumnya langsung masuk ke babak perempatfinal. Pada pertandingan pertama babak 16 besar, Polandia berhasil mengalahkan Swiss melalui drama adu penalti dengan skor 5-4 berkat kegagalan Granit Xhaka mengeksekusi penalti. Sebelumnya, laga berakhir imbang 1-1. Gol Jakub Blaszczykowski pada menit ke-39 dibalas melalui tendangan salto Xherdan Shaqiri dari luar kotak penalti pada menit ke-82.

 

“Brexit” atau yang merupakan akronim dari “British Exit” merupakan gerakan Britania Raya keluar dari Uni Eropa. Perlu digarisbawahi, keluar dari Uni Eropa sama halnya dengan keluarnya Indonesia atau negara Asia Tenggara lainnya dari ASEAN. Jadi, tidak mempengaruhi keikutsertaan Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara di sepakbola Eropa, karena masih terdaftar keanggotaannya di UEFA. Sama halnya dengan Timor Leste dan Australia, yang bukan merupakan anggota ASEAN namun ikut dalam berbagai kejuaraan AFF. Referendum menyatakan, rakyat Inggris yang ingin keluar dari Uni Eropa lebih banyak dari yang ingin tetap di Uni Eropa. Walau ini akan berpengaruh di perekonomian global mengingat superioritas dari perekonomian Inggris serta kuatnya mata uang Poundsterling, namun kita tidak bisa meramal secara pasti apa yang akan terjadi ke depannya.

 

Tepat setelah itu, laga babak 16 besar mempertemukan 2 negara yang sebenarnya adalah di bawah naungan 1 koloni, 1 pemimpin. Yaitu Wales dan Irlandia Utara. Performa kedua negara di Euro 2016 ini terbilang sungguh luar biasa, karena keduanya merupakan negara debutan di Euro. Wales lolos ke putaran final Euro 2016 sebagai runner up kualifikasi grup B, sementara Irlandia Utara lolos ke putaran final sebagai juara kualifikasi grup F. Di babak grup pun tak berbeda jauh. Wales lolos sebagai juara grup B dengan 2 kemenangan dan sekali kekalahan. Sementara Irlandia Utara lolos dengan status peringkat 3 terbaik.

 

Laga di stadion Parc des Princes di kota Paris milik klub kaya raya, PSG tersebut begitu bernuansa “Inggris Raya”. Wales yang terletak di sebelah barat negara bagian Inggris (England) berhadapan dengan Irlandia Utara yang sesuai namanya, terletak di utara pulau Irlandia. Laga tersebut juga dipimpin oleh wasit dari negara yang satu koloni, Martin Atkinson yang berasal dari Inggris. Intinya, di lapangan Parc des Princes, semuanya adalah keluarga Inggris Raya, kecuali pembawa  bendera saat kedua tim masuk ke lapangan, ballboy, dan fourth official yang berasal dari Jerman, Felix Byrch. Laga terasa seperti ‘perang saudara’. Lagu kebangsaan yang dinyanyikan oleh Irlandia Utara pun sama dengan lagu kebangsaan Inggris, yaitu “God Save The Queen”. Baik wasit ataupun pemain dan supporter Wales, tidak mungkin tidak hafal lagu tersebut meskipun Wales menyanyikan lagu kebangsaannya sendiri, “Hen Wlad Fy Nhadau”. Namun, saya memiliki satu pertanyaan yang sama dengan pertanyaan kapten Manchester City, Vincent Kompany. Jika Inggris dan Irlandia Utara bertemu, apakah keduanya akan menyanyikan lagu “God Save The Queen” bersama-sama atau dinyanyikan dua kali? Nuansa Inggris yang begitu kental di laga tersebut memang berjalan cukup sengit dan alot. Tercatat ada 4 kartu kuning di laga tersebut, 2 bagi Wales dan 2 bagi Irlandia Utara. Laga sendiri dimenangkan oleh Wales, yang memang terlihat unggul di atas kertas, melalui gol bunuh diri Gareth McAuley pada menit ke-75. Wales sendiri akhirnya melaju ke perempatfinal dan menunggu lawannya, antara Hongaria atau Belgia.

 

Ada 5 negara debutan di Euro 2016, yaitu Wales, Irlandia Utara, Slovakia, Albania, dan Islandia. Hebatnya, hanya 1 negara yang tidak lolos ke babak selanjutnya, yaitu Albania. Dan Albania sendiri bukanlah juru kunci di babak grup, Albania hanya tidak lolos berdasarkan system peringkat tiga terbaik. Penerapan 24 peserta di Euro 2016 menghasilkan banyak negara yang bisa disebut medioker melaju hingga ke babak perempatfinal. Dan banyak laga seru yang sudah terjadi terlebih dahulu. Seperti Italia melawan Spanyol. Dan di babak final, yang diprediksi adalah final yang timpang, negara yang kuat melawan negara yang lemah atau tidak terlalu kuat. Namun bisa saja seperti pada Euro 2004, Yunani secara mengejutkan menjuarai turnamen tersebut dan menyingkirkan Prancis dan Republik Ceko sebelum mengalahkan Portugal di final di hadapan pendukungnya sendiri di Estadio da Luz, Lisbon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s