Cinta tapi Beda (Negara)

z20224192Q,Bracia--Granit-Xhaka-i-Taulant-Xhaka
Taulant Xhaka (kiri) bersama sang adik, Granit Xhaka (kanan)

Euro 2016 telah dimulai! Kejuaraan sepakbola antar negara-negara di benua biru yang akan menghadirkan beragam cerita. Peluit pembuka pagelaran Euro 2016 yang ditiup oleh Viktor Kassai, wasit asal Hongaria menandakan awal dari berbagai cerita dan drama. Sampai artikel ini ditulis, Euro 2016 juga belum menghasilkan pencetak gol terbanyak, karena terdapat 13 pemain yang sudah mencetak gol bagi negaranya namun hanya satu gol masing-masing pemain. Derby sejarah pun akan banyak terjadi, seperti Jerman dengan Polandia, Inggris dengan Wales, serta Austria dengan saudara tuanya, Hongaria. Serta ‘perang’ dari pemain tiap negara. Seperti Lukas Podolski di tim Jerman akan bertemu negeri masa kecilnya, Polandia. Roman Neustader di tim Rusia akan bertemu negeri leluhurnya, Jerman. Neustader sendiri sudah bermain 2 kali bersama tim nasional Jerman, namun kini lebih memilih Rusia dengan mempertimbangkan tanah kelahirannya, karena ia terlahir di Dnipropetrovsk, RSS Ukraina, Uni Soviet. Ayahnya sendiri lahir di Kyrgyzstan dan bermain untuk tim nasional Kazakhstan. Terlahir sebagai etnik Volga German, membuat pohon keluarga Neustader cukup unik.

 

Masih banyak lagi, seperti Mesut Ozil di tim Jerman yang sama-sama berjuang dengan negeri para leluhurnya, Turki. Sementara Nuri Sahin, Hakan Calhanoglu, Yunus Malli, Olcay Sahan, dan Hakan Balta di tim Turki, sama-sama berjuang dengan negeri tempat mereka lahir, Jerman. Diaspora di Eropa memanglah sangat sering terjadi, mengingat banyaknya kaum imigran, pengungsi, imigran dari tanah jajahan, serta pencari suaka yang menghindari perang saudara, dan orang tua yang menikah beda negara membuat seorang yang bernama Jerman belum tentu orang Jerman, atau seorang bernama Afrika ternyata orang Prancis. Diaspora tersebut membuat kemungkinan akan ada sepasang saudara yang berbeda pendapat dalam menentukan kewarganegaraan. Antara ikut ayah atau ikut ibu, mengikuti keturunan atau tanah kelahiran, bahkan mengikuti negara di mana ia dibesarkan. Sosok-sosok yang muncul contohnya seperti Kevin-Prince Boateng (Ghana) dan Jerome Boateng (Jerman), Thiago Alcantara (Spanyol) dan Rafinha Alcantara (Brazil), serta Taulant Xhaka (Albania) dan Granit Xhaka (Swiss). Berikut cerita singkat mengenai nama terakhir yang keduanya sama-sama terlibat dalam goresan cerita di Euro 2016

 

Taulant dan Granit, keduanya lahir di kota Basel, Swiss. Taulant sendiri lebih tua 18 bulan dibanding adiknya, Granit. Orang tua mereka, Regip dan Elmazi Xhaka adalah seorang Kosovo – Albania. Memang, dari dulu Kosovo mempunyai relasi yang dekat dengan Albania serta sangat memusuhi Serbia mengingat insiden pencabutan bendera berbau politik yang bergambar peta Kosovo yang disangkutkan pada sebuah drone lalu dicabut oleh pemain Serbia, Stefan Mitrovic. Insiden tersebut memicu keributan di laga tersebut yang pada akhirnya UEFA menghadiahkan kemenangan 3-0 bagi Albania, hukuman pengurangan 3 poin untuk Serbia, serta denda 100.000 Euro bagi kedua tim. Kedua orang tuanya pindah dari Kosovo ke Basel di Swiss pada 1989 demi masa depan buah hatinya. Mereka tidak ingin sang buah hati dibesarkan dalam dunia yang penuh gejolak

 

Taulant dan Granit memang tak bisa dipisahkan. Bersama-sama bermain dari tahun 2000 sampai 2012 di tim Concordia Basel dan FC Basel. Sebelum sang adik bergabung ke Borussia Monchengladbach pada 2012 dan bergabung ke Arsenal pada 2016. Keduanya sempat memperkuat Swiss U-17 sampai Swiss U-21. Sang adik, Granit yang dinilai mempunyai skill yang lebih mumpuni dibanding kakaknya, ternyata tidak menarik perhatian FSHF, federasi sepakbola Albania. Justru sebaliknya, Swiss yang tertarik pada bakat seorang Granit Xhaka untuk memperkuat Schweitzer Nati. Jika Granit lebih bermain menyerang, Taulant lebih sering bermain di posisi bek dan gelandang bertahan. Granit adalah seorang playmaker, pembangun serangan dan Taulant adalah seorang versatile yang bisa bermain di banyak posisi. Granit adalah seorang yang tenang, sementara Taulant adalah seorang yang berandal namun banyak prestasi.

 

Pilihan Granit untuk bergabung di tim nasional Swiss memang baik untuk karirnya, terutama saat mengikuti Piala Dunia 2014 di Brazil. Namun pilihan itu tidak baik bagi jiwanya. Sang adik yang lebih dulu bermain di tim nasional senior daripada kakaknya memberi pelajaran dan pengalaman agar sang kakak tidak bermain untuk Swiss. Bukan agar Granit tidak merasa tersaingi, tapi lebih kepada ras mereka sebagai orang imigran. Berulang kali Granit menerima cacian berbau rasisme selama memperkuat tim nasional Swiss serta ceritanya tentang bagaimana orang-orang Swiss tidak menyukainya, membuat Taulant Xhaka berpaling ke pangkuan Albania. Granit sendiri menjalani debutnya bersama Swiss pada 4 Juni 2011 saat melawan Inggris, sementara Taulant menjalani debutnya pada 5 Maret 2014 saat menghadapi Malta.

 

Hasil kualifikasi Euro 2016 yang saat itu cukup mengejutkan dengan lahirnya banyak tim debutan seperti Albania, Wales, Slovakia, Irlandia Utara, dan Islandia. Namun hasil undian grup lah yang membuat dua bersaudara tersebut tercengang. Keduanya tergabung di grup A bersama Prancis dan Rumania. Keduanya pun saling bertemu di Stade Bollaert-Delelis di kota Lens, Prancis. Laga yang berkesudahan dengan kemenangan 1-0 bagi Swiss berkat gol Fabian Schar sebenarnya bukanlah laga yang menarik banyak pasang mata, namun dua bersaudara di dua tim berbeda, itulah merupakan ‘nilai jual’ laga ini. Sang ibu pun juga menonton di tribun stadion. Dengan kaus hitam bertuliskan nama keluarga mereka, Xhaka serta bendera yang terbagi dua, Swiss dan Albania. Sebelum pertandingan, Granit sempat menulis caption pada foto mereka berdua di akunnya, @granitxhaka. Status dalam Bahasa Inggris tersebut cukup mengharukan, bagaimana itu adalah mereka pertama kalinya harus memposisikan diri sebagai lawan dalam 90 menit di lapangan hijau, namun keluarga tetaplah keluarga.

 

Tomorrow will be the first time that we face each other on the pitch as oppontens and I hope that it will be the first and last time, we will show the world that even though we are oppontents for 90 mintes we will stand together like only brother can do.”

 

Serta tak lupa di akhir caption tersebut, Granit mendoakan kesehatan dan semangat untuk sang kakak yang baginya adalah seorang teladan. Begitu cintanya ia kepada sang kakak, sampai-sampai ia rela dicaci dan dicemooh oleh rakyat Swiss dan mengingatkan sang kakak agar tidak mengikuti dirinya. Sebelum dan sesudah pertandingan pun mereka berpelukan dengan begitu hangat, mengingatkan akan kehidupan masa kecil yang penuh cinta di Basel dan identitas mereka sebagai Kosovo-Albania, namun di lapangan hijau sebagai atlet pesepakbola, mereka mengusung bendera yang berbeda. Mereka memang saling mencintai, namun pilihan mereka beda.

 

Cinta mereka bukanlah sekedar kepada tim Albania maupun tim Swiss. Cinta kepada orang tua mereka, melebihi itu semua. 80% gaji mereka pun mereka persembahkan kepada kedua orang tua mereka yang menghindari mereka dari masa depan yang kelam di Kosovo yang bergejolak, mendaftarkan mereka di akademi Concordia Basel agar terhindar dari kehidupan yang buruk tanpa berharap mereka akan menjadi bintang sepakbola, serta membesarkan mereka sebagaimana orang tua pada umumnya.

 

Albania dan Swiss hanyalah sebagai sarana mereka meniti karir internasional. Granit pun tidak melupakan jati dirinya sebagai seorang Kosovo-Albania walau sekarang dielu-elukan oleh sang pelatih Ottmar Hitzfeld sebagai Schweinsteiger nya Swiss. Mantan pelatih FC Basel, Thorsten Fink pun menyatakan kalau Xherdan Shaqiri adalah talenta terbaik Swiss, setelah Granit Xhaka. Menariknya, Shaqiri dan Granit keduanya adalah orang yang sama, membela tim nasional Swiss dan berdarah Kosovo-Albania.

 

Cinta itu buta, walau akan ada beda. Di rumah pun, tidak akan ada “anak Swiss” dan “anak Albania”, yang ada hanyalah Taulant dan Granit yang merupakan kebanggaan dari dua sejoli, Regip Xhaka dan Elmaze Xhaka. Dari Kleinbasel, mereka berdua kini terbang tinggi mendunia, saling mencinta layaknya saudara, walau beda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s