Maladewa yang Akan Hilang dari Peta Dunia

maldives-beach-baros
Ilustrasi: Pantai di Maladewa

Seperti yang kita tahu, di abad ke-20 ini sedang terjadi pemanasan global, di mana suhu dunia menjadi lebih panas akibat lubang ozon dan polusi udara. Meskipun banyak orang yang terang-terangan menyatakan melawan pemanasan global, nyatanya ia juga masih merokok, menggunakan mobil, dan  menggunakan pendingin ruangan. Harus kita akui juga, pemanasan global banyak membawa dampak buruk, seperti mencairnya gunung es dan kutub, meningkatnya permukaan air laut, cuaca ekstrim, dan kekeringan. Namun, ada satu dampak yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari salah satu dampak yang sudah disebutkan di atas.

 

Jika kita pikirkan, air laut yang semakin meningkat permukaannya akibat mencairnya es di kutub akan mengakibatkan tenggelamnya daratan atau sekedar berkurangnya luas daratan. Dan, ya, itu memang benar terjadi, tenggelamnya daratan. Seperti judul dari artikel ini, Maladewa, negara kepulauan di selatan India terancam akan tenggelam. Para ilmuan juga telah memprediksi demikian, karena ketinggian daratan hanya 1,5 meter di atas permukaan laut dan puncak tertinggi hanya 2,4 meter di atas permukaan laut. Tercatat, setiap tahunnya, permukaan laut naik 3 milimeter. Sedikit-sedikit menjadi bukit. Walau terlihat hanya 3 milimeter per tahun, tapi itu tetap saja akan terus bertambah. Jika dihitung, pada kenaikan air laut mencapai 1 meter, kepulauan itu akan tenggelam pada 100-200 tahun ke depan. Masih lama memang, tapi itulah tempat tinggal anak cucu Maladewa. Kehilangan yang dirasakan bukanlah hanya milik rakyat Maladewa, tetapi kita semua akan kehilangan, tentunya karena keindahan alam pantainya. Dan tentu itu akan membuat manusia sadar, bagaimana keserakahan manusia dalam pemanasan global memakan korban yang satu spesies, manusia juga.

 

Nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur surga lautan itu akan tenggelam. Namun, banyak tindakan preventif yang sebenarnya bisa kita lakukan sama seperti mencegah pemanasan global. Seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mematikan alat listrik jika tidak dipakai, dan mencegah penebangan liar. Tindakan preventif yang lebih gencar juga telah dilaksanakan di Maladewa, seperti reklamasi pulau dan terdapat pelajaran mengenai kelestarian laut dalam kurikulum sekolah dasar di Maladewa, termasuk di dalamnya ada pelajaran menyelam. Presiden ke-4 Maladewa, Mohamed Nasheed yang juga merupakan aktivis lingkungan hidup sudah siap siaga jika tenggelamnya negeri itu berlangsung lebih cepat. Ia berencana memindahkan penduduknya ke Australia. Maka dari itu, mungkin, anak cucu kita tidak akan melihat daratan Maladewa di peta dunia beserta bendera merah dengan persegi panjang berwarna hijau dan bulan sabit di dalamnya. Bersiaplah menghapus Maladewa dari peta dunia, namun tidak dengan menghapus kenangan akan surga lautan itu.

 

Memang sulit untuk menganggulangi pemanasan global yang merupaka akibat dari kecerobohan manusia, apalagi yang menjadi korban adalah sesama manusia. Namun, setidaknya kita bisa menunda kehancuran akibat pemanasan global. Tentu, hasil yang akan kita tuai dan nikmati nantinya bukanlah hanya milik rakyat Maladewa beserta para pemimpinnya. Tetapi, seluruh masyarakat dunia yang terlanjur terpesona akan keindahan surga pantai di selatan India tersebut. Maladewa akan terus memberikan kenyamanan kepada 600.000 turis mancanegara yang datang setiap tahunnya. Cottage di sana pun juga gencar melakukan bersih-bersih demi menjaga biota pantai dan laut.

 

Tercatat, presiden Maladewa saat itu, Mohamed Nasheed pernah mengadakan rapat di bawah permukaan air dan tercatat sebagai satu-satunya negara di dunia yang pernah melakukannya. Namun, apakah Maladewa akan membuat cottage, mal, stadion, dan perkotaan di bawah air seperti impian para penggemar cerita fiksi?

 

Nama Maladewa dalam Bahasa Sansekerta, Mala yang artinya untaian dan Dvipa yang artinya pulau. Jadi, artinya adalah untaian pulau-pulau, begitupun dalam Bahasa Sinhala, yaitu Maala Divaina. Jangan sampai untaian pulau bak mutiara itu tenggelam dalam waktu singkat karena keganasan kita dalam merusak alam.

 

“Fakhraa sharaf gaumah e hoadhai dhevvi bathalunnah,

Zikraage mathiveri lhenthakun adhugai kureeme salaam.”

 

“Pahlawan yang mencari kehormatan dan kebanggaan bangsa

Kita memberikan hormat hari ini dalam ayat-ayat yang menguntungkan untuk mengenang”

Qaumii Salaam – Lagu Kebangsaan Maladewa

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s