Keponakan Raja yang ‘Turun Kasta’

BfMmIsOCIAEl-PP
Faiq Bolkiah (kiri) menandatangani kontrak bersama Chelsea

 

Faiq Jefri Bolkiah, atau biasa dikenal dengan nama Faiq Bolkiah. Ia lahir 9 Mei 17 tahun yang lalu, nun jauh di Los Angeles, Amerika Serikat. Dan dia adalah keponakan dari Sultan Brunei Darussalam yang ke-29 (sekarang masih menjadi Sultan), Hassanal Bolkiah. Dari nama belakangnya sudah menunjukkan dia adalah bagian dari “dinasti” Bolkiah. Perantauan orang tuanya dari Brunei ke Amerika Serikat tidak banyak diketahui, bagaimana mereka bisa berada di Amerika Serikat dan melahirkan Faiq.

 

Hidup sebagai bagian dari keluarga Kesultanan Brunei merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Sultan Hassanal Bolkiah sendiri tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia versi Forbes, dengan kekayaan tercatat 20 miliar dolar Amerika pada 2008. Tentu kita membayangkan kehidupan Faiq yang bergelimang uang tanpa bersusah payah dan bermandi keringat untuk hidup sejahtera, semua sudah tersedia dari sang Sultan. Mengendarai, atau disupiri dengan Rolls-Royce, Lamborghini, atau Bentley versi terbatas, atau terbang mengelilingi dunia dengan Boeing 747 milik pamannya serta hidup bergelimangan harta di Istana Nurul Iman, istana terbesar di dunia.

 

Untungnya, Faiq tidak demikian, jadi saya bisa menulis sebuah artikel tentangnya. Faiq adalah seorang pesepakbola. Ia sempat tercatat sebagai bagian dari klub raksasa Inggris, Chelsea FC. Bergabung dengan tim U-18 dan U-16 Chelsea, ia memulai debutnya pada bulan Maret 2014 melawan Fulham. Dan cerita perantauan dan hijrahnya di Inggris menjadi sebuah kisah yang manis. Ia mengakhiri musim dengan tidak sedikit penampilan di lapangan hijau. Ternyata, sebelum bergabung dengan akademi Chelsea, ia sudah terlebih dahulu bergabung dengan akademi sang rival, Arsenal FC serta akademi Reading. Tentu Faiq selain merupakan keluarga Sultan, ia adalah aset masa depan Brunei Darussalam, yang kita ketahui hanyalah tim yang dipandang sebelah mata di Dunia, bahkan di regionalnya sendiri, Asia Tenggara.

 

Jika dalam keluarga Kesultanan Brunei ia “bermain” sebagai keponakan, dalam sepakbola ia bermain sebagai posisi sayap dan penyerang. Di mana ia bisa bermain di kedua sisi sayap, kiri dan kanan. Di Chelsea, ia mencatatkan 13 penampilan dan mencetak 2 gol, masing-masing ke gawang West Ham dan West Bromwich di musim 2014-15 saja. Ia mencatatkan total 20 penampilan dan mencetak 2 gol di seluruh karirnya bersama The Blues.

 

Faiq begitu cinta pada negara leluhurnya. Ia memilih untuk memperkuat Brunei Darussalam disbanding negara kelahirannya, Amerika Serikat ataupun di negeri Ratu Elizabeth di mana ia sekarang meniti karir di tanah Britania. Mungkin ia tidak mau mengecewakan keluarganya dan sang paman, Sultan Hassanal Bolkiah. Faiq tercatat sudah memperkuat tim U-19 dan U-23 Brunei Darussalam. Ketika masih berusia 15 tahun dan masih memperkuat akademi Arsenal, ia tercatat sebagai “Top 20 Southeast Asia Rising Star” atau 20 talenta muda terbaik Asia Tenggara. Ia bermain cukup baik di pagelaran Piala AFF U-19 pada 2013, saat Evan Dimas, dkk menjadi juara, namun kini mereka entah kemana. Bahkan, Faiq dalam daftar tersebut menjadi pemain termuda yang masuk ke dalam daftar tersebut.

 

Namun, pada akhirnya, ia kesulitan untuk bersaing demi tempat reguler di tim akademi. Kini, ia sudah tak lagi bersama Chelsea dan bergabung dengan klub yang sedang menjadi buah bibir di Inggris karena performanya yang mengagumkan dan tak terduga, Leicester City sejak Maret 2016. Diproses oleh pelatih tim akademi, Jon Rudkin untuk selanjutnya menanti sentuhan magis dari sang pelatih tim utama, Claudio Ranieri. Sebagaimana ia lakukan terhadap pemain-pemainnya seperti Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan Danny Drinkwater. Tentu, kini ia merasakan kebanggaan yang sama ketika kesebelasan di mana ia sekarang sedang bermain sedang berpesta pora dan euphoria luar biasa di skuad Leicester City.

 

Kita akan menantikan nanti bagaimana Faiq sendiri akan meraih sukses bersama tim nasionalnya. Selama ini, nama Brunei Darussalam identik dengan negara Kesultanan Islam yang dalam kaya akan minyak dengan GDP mencapai 54,537 dolar Amerika, namun dalam dunia sepakbola, bisa dibilang buruk. Tim nasional Brunei menduduki peringakt 195 FIFA per April 2016, turun 11 peringkat dibanding bulan lalu. Peringkat tertingginya hanyalah peringkat 140 pada Desember 1992 dan mencapai titik terendah pada Oktober 2012 dengan peringkat 203. Bahkan, dengan prestasi yang minim pun, Brunei juga pernah terkena suspensi oleh FIFA pada 2011 karena ikut campurnya pemerintahan dalam dunia sepakbola. Kita menunggu, bisa sampai 7, 8, bahkan 10 tahun kemudian, kemagisan sang putra Sultan. Ia memilih jalan hidupnya bukan untuk bersenang-senang bersama sang paman dan keluarganya di Istana Nurul Iman. Ia memilih sepakbola, menjadi sumber kesenangannya. Biarkan nantinya ia akan mengharumkan nama sepakbola Brunei yang seret prestasi.

 

Untungnya ia terlahir di Amerika Serikat, kemudian hijrah ke Inggris, sebagaimana kita tahu betapa ‘cuek’ nya masyarakat Inggris yang tidak memandang apakah ia putra seorang kepala negara atau putra seorang tukang kayu, tetaplah ia adalah pesepakbola sesuai jalan hidupnya. Bayangkan jika ia terlahir di Brunei, tentu saya tidak akan menulis artikel ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s