Terorisme Jakarta: Ketakutan dan Pembodohan Massal

630xauto-22670-foto-foto-pray-for-jakarta-banjiri-twitter-1601142-001-rev1

Jakarta kota metropolitan berpenduduk hingga puluhan juta belum bisa menjamin rasa aman bagi penduduknya. Aktivitas berjalan seperti biasa, di kawasan Sarinah, orang-orang berlalu-lalang. Bekerja, mencari nafkah, berbelanja, dan satu yang menjadi ‘biang kerok’, merakit bom. Tak ada yang menyangka, di pagi hari menjelang siang yang cerah, sebuah bom meledak di depan restoran yang memiliki daya tarik bagi pengunjung.

 

Korban jiwa berjatuhan selalu tak bisa dihindari. Berbagai cerita lahir dari pemboman di Sarinah tersebut. Ada yang merantau ke Jakarta mencari kerja, tetapi malah harus rela berlumuran darah. Ada sekelumit kisah heroik dari polisi, satpam, dan masyarakat, menantang maut demi menyelamatkan nyawa orang banyak. Ada yang berteriak-teriak histeris. Ada yang menonton duel antara polisi melawan penjahat layaknya syuting film. Ada yang tetap tenang mengais rejeki di masa siaga satu, dan berbagai cerita lain yang bisa kita katakan cukup unik.

 

Namanya musibah, tak lepas dari namanya konspirasi. Ada yang bilang ini adalah pengalihan isu, karena belum lama sebuah berita dirilis tanggal tersebut (14 Januari 2016) adalah tenggat waktu bagi Freeport untuk menandatangani kontrak barunya. Juga beredar sebuah email yang berisi “Travel Warning” dari pemerintah Amerika Serikat terhadap warga negaranya di Indonesia yang waktunya menunjukkan pukul 06.51 WIB untuk mewaspadai kawasan Sarinah dan MH Thamrin, sedangkan pemboman terjadi kira-kira pukul 10.00 WIB. Konspirasi, benar atau tidak?

 

Berbagai teori juga muncul, misal, ini adalah rangkaian dari bom di Paris beberapa waktu yang lalu, pengkambinghitaman Yahudi, Iluminati, Freemason, ISIS, dan berbagai kelompok yang menjadi langganan kambing hitam dalam isu-isu nasional dan internasional. Lalu sebenarnya, apa efeknya bagi rakyat Jakarta?

 

Jika kita melihat video, atau salah satu dari kita ada yang menjadi saksi mata, kepanikan dan trauma bisa dibilang berlangsung tidak lama. Baku tembak polisi dan teroris terkesan seperti syuting film laga, di mana pedagang kaki lima tetap berjualan menjajakan dagangannya dan meraup omset lebih dari biasanya. Luar biasa. Memang itulah yang harusnya terjadi, tidak ada kepanikan. Karena tujuan dari terorisme adalah menciptakan kepanikan dan paranoid di masyarakat, sehingga jika masyarakat panik, teroris puas. Tapi, nyawa sembilan yang dimiliki mayoritas penduduk Jakarta, apa bisa membuat teroris puas?

 

Bahkan pada sore harinya, presiden Joko Widodo meninjau langsung Sarinah sebagai lokasi pemboman. Dan keesokan harinya, aktivitas kembali berjalan normal, hanya ada penjagaan yang ketat pada beberapa ruas jalan. Kawasan Jalan Jaksa yang cukup dekat dengan lokasi, yang juga banyak didiami oleh wisatawan asing backpacker tetap seperti biasa. Wisatawan pun merasa tenang karena masyarakat Jakarta juga tenang. Bayangkan jika kepanikan terjadi, warga berhamburan, desas-desus tentang kelanjutan terorisme, yang ada malah akan membuat para wisatawan angkat kaki.

 

Memang kasus ini berbeda dengan Paris. Di mana Paris sebagai kota internasional yang tentunya memiliki prosedur keamanan yang ketat, bisa kebobolan dan terjadi terorisme di pusat kota. Hal ini tentunya membuat masyarakat panik, yang terbiasa ‘adem ayem’ dengan pengamanan ekstra ketat, tiba-tiba ada bom. Bahkan presiden Prancis, Francois Hollande langsung menutup perbatasan pintu masuk negaranya.

 

Selanjutnya, juga sempat terjadi perdebatan di media sosial tentang penggunaan hashtag #PrayForJakarta. Penggunaan hashtag sembarangan identik dengan remaja-remaja labil ibukota. Namun, isu yang beredar adalah penggunaan hashtag tersebut mampu melemahkan rupiah hingga 17.000 per dollar AS. Bagaimana bisa? Jawaban yang diberikan berupa penjabaran-penjabaran secara kronologis bagaimana itu bisa terjadi, bahasa yang digunakan pun adalah bahasa investor, sehingga masyarakat awam tidak paham dengan maksudnya, dan bersikap ‘sok paham, yang penting keren’ tentang kronologis tersebut dan akhirnya percaya.

 

Perlu ditekankan bahwa Twitter, Facebook, Path, Instagram, dan sebagainya bukanlah situs para investor. Mereka lebih memilih mengunjungi situs berita maupun situs pasar saham. Lagipula, tanpa hashtag, di era globalisasi, berita pasti menyebar dengan cepat. Indonesia bukanlah negara yang tertutup layaknya Korea Utara, berita menyebar dengan cepat, dan kenyataan yang dihadapi tak bisa dihindari, turunnya perekonomian sementara. Di sini kita belajar bahwa setiap ada kejadian, ada saja masyarakat yang percaya terhadap satu opini, dan masyarakat lain percaya pada opini lain yang tentunya keduanya berseberangan dan dibekali fakta yang dangkal.

 

Bisa kita ambil kesimpulan, bahwa terorisme memang tidak membuat masyarakat takut berkepanjangan, tetapi malah pembodohan yang seharusnya kita takuti. Percaya pada satu opini yang tidak didasari pada fakta yang ada, itu adalah hal yang lazim ditemui dalam masyarakat Jakarta, bahkan Indonesia. Kehidupan di Jakarta yang keras, bermacet ria setiap hari, berdesakkan di bus, di kereta, di angkot, perampokan, kecopetan, begal, kecelakaan maut setiap hari meramaikan halaman depan surat kabar juga meramaikan linimasa di media sosial. Sudah biasa, jadi kita tidak perlu takut berlama-lama dengan bom Sarinah. Kita tetap harus waspada, namun jangan takut berkepanjangan yang membuat kita jadi takut untuk sekedar menampakkan batang hidung. Biarkan pemerintah, POLRI, dan TNI mengambil langkah preventif setelah terjadinya bom. Kami tidak takut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s