Wednesday di Malam Rabu

Football - Sheffield Wednesday v Arsenal - Capital One Cup Fourth Round - Hillsborough - 27/10/15 Arsenal's Olivier Giroud looks dejected after Sheffield Wednesday's third goal Action Images via Reuters / Jason Cairnduff Livepic EDITORIAL USE ONLY. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or
Kekecewaan pemain Arsenal setelah dicukur Sheffield Wednesday dengan skor telak 3-0

Piala Liga Inggris atau yang sekarang lazim disebut Capital One Cup karena alasan sponsor, sebuah turnamen yang dilangsungkan dari awal musim dan berakhir pada pertengahan paruh kedua musim. Memang hegemoninya tak seagung Piala FA, karena memang Piala FA adalah kompetisi sepakbola tertua di seluruh dunia. Namun pada dua musim belakangan ini, turnamen ini selalu menghasilkan juara yang merupakan tim-tim kuat di kasta tertinggi sepakbola Inggris: Manchester City dan Chelsea. Manchester City mengalahkan Sunderland 3-1 pada musim 2013-14 dan Chelsea mengalahkan Tottenham Hotspur dengan skor 2-0 di musim berikutnya.

Kembali ke topik, yang sebenarnya di bahas adalah pasukan Arsenal yang dilumat habis oleh Sheffield Wednesday, sebuah tim dari kasta kedua Liga Inggris yang selalu dipandang sebelah mata dan didengar sebelah telinga. 3-0, cukup, atau bahkan, sangat telak untuk Arsenal. Mungkin terlintas di benak kita jika yang bermain untuk starting line up Arsenal adalah para ABG ataupun penghangat bangku cadangan. Ternyata, alibi tersebut tak berlaku. Faktanya, hanya 3 dari 11 dari starting line up yang merupakan pemain muda yang butuh jam terbang. Petr Cech menjaga gawangnya dilindungi benteng pertahanan Per Mertesacker dan Calum Chambers. Glen Kamara mengisi posisi gelandang berduet dengan sang senior Mathieu Flamini, sementara trio sayap diisi Alex Iwobi dan Joel Campbell, serta seorang pemain berpengalaman, Alex Oxlade-Chamberlain di tengah dengan ujung tombak Olivier Giroud. Alibi kedua, Arsenal fokus ke Liga Inggris dan Liga Champions. Bisa, tapi skor 3-0 tetaplah 3-0, tak akan berubah menjadi 3-3 ataupun 3-4 jika pertandingan telah selesai.

Pergantian berantai terjadi sebelum menit ke-20 tiba, Alex Oxlade-Chamberlain cedera dan digantikan Theo Walcott yang hanya bermain 14 menit dan digantikan oleh pemain muda, Ismael Bennacer. Menit ke-27, petaka pertama tiba ketika Daniel Pudil mengirimkan umpan kepada Ross Wallace dengan penyelesaian tendangan kaki kirinya menjebol gawang Petr Cech. Baru 1 gol, rasa optimis akan comeback masih menginfeksi penonton layar kaca dan stadion.

Menit ke-40, sebuah umpan silang ke dalam kotak penalti yang seharusnya bisa dicegah oleh benteng pertahanan Arsenal, tak dapat dicegah. Lucas Joao dengan tandukkan pelan membobol gawang Petr Cech sekaligus menggemuruhkan sang perenggut nyawa 96 Liverpudillan 26 tahun yang lalu, Stadion Hillsborough. Dalam hitungan 10 menit, lagi-lagi sang legenda Chelsea harus memungut bola dari gawang untuk yang ketiga kalinya. Tendangan bebas Barry Bannan membidik Tom Lees di sayap kanan tanpa pikir panjang langsung mengirim bola ke mulut gawang yang di situ telah menunggu sang eksekutor, Sam Hutchinson yang lolos dari kawalan pemain belakang Arsenal. 3-0, apakah arwah 96 Liverpudillan bersorak-sorai dari alam maut ketika menyaksikan pertandingan ini? Ketika Liverpool sendiri musim ini tak pernah lepas dari cacian para maniak sepakbola. 1 poin adalah poin maksimal yang didapat dalam 3 pertandingan terakhir. Nahkodanya telah berganti kepada pelatih yang cukup ‘nyentrik’, Jurgen Klopp yang menyatakan dirinya adalah ‘The Normal One’ yang pada kenyataannya menjadi ‘The Draw One’.

Hati para penghantar ribuan puja puji saat Arsenal dalam kemenangan 2-0 atas kampiun dari Bavaria, Jerman, yaitu Bayern Munich akan menyangsikan atau berpikir ulang ketika mengetahui kekalahan 3-0 ini. Apakah dari segi materi, memang bermain dengan full, namun dalam hati yang half? Permainan yang setengah hati, meremehkan lawan, ataupun tak merasakan sebuah gairah pertandingan cukup lazim mengingat lawan yang dihadapi sangat jauh di bawah Arsenal jika dibandingkan di atas kertas. Namun ketika hasil pertandingan terpampang di papan skor, tong sampah akan menjadi perhentian kertas-kertas tadi selanjutnya.

Rasa senasib sepenanggunan dan sekota, kekalahan Chelsea atas Stoke City juga membuat para pendukung Chelsea mulai mempertanyakan ke mana kemagisan Jose Mourinho musim ini yang pada musim lalu berhasil membuat Chelsea menjadi kampiun dan tak tergantikan di singgasana selama 10 bulan. Kalah adu penalti 5-4 ketika pemain yang lebih hebat dari Cristiano Ronaldo, tak perlu disebutkan namanya, gagal mengeksekusi penalti dan menambah rentetan kekalahan pada musim ini. Bertengger di peringkat ke-15, sebenarnya bukanlah tempat yang layak untuk Chelsea. Nasib.

Pada musim 2012-13 ketika kemenangan melawan Reading dengan skor 7-5 di turnamen yang sama, tertinggal sampai 4-0 memang membuat was-was. Pertandingan melawan Sheffield Wednesday, tertinggal 3-0, sepertinya Wenger masih bersantai mengharapkan sebuah comeback seperti pada 3 musim yang lalu. Peluit tanda selesai pertandingan ditiupkan sang wasit, pertanda, bahwa Arsenal memang tidak bisa santai pada musim ini. Berada di peringkat ketiga babak grup Liga Champions, memalukan. Tersingkir tragis dari Piala Liga dengan skor 3-0 dari tim antah berantah, memilukan. Berada di peringkat kedua Liga Inggris dalam klasemen sementara, hanya kalah selisih gol dari peringkat pertama, Manchester City memang cukup mengobati banyaknya kegagalan pada musim ini. Piala FA? Bosan! Trofi itu-itu saja diangkat oleh pemain yang juga itu-itu saja dan tentunya euforia tak akan semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Arsenal seharusnya memang merindukan trofi Liga Inggris dan tentunya si kuping besar, Liga Champions. Pada 2006, Arsenal hanya menjadi juara dua ketika dikalahkan Barcelona dengan skor 2-1 di final yang berlangsung di Paris. Sementara tahun-tahun berikutnya, menuju perempat final pun terasa seperti harus mengarungi samudera.

Kekalahan dari Sheffield Wednesday di Wednesday night, kekecewaannya tak boleh berlarut lama-lama. Musim masih panjang, jika tim-tim besar juga ikut tersingkir secara tragis, toh kita pun jadi punya kawan senasib.

Victoria Concordia Crescit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s