Membara di Tengah Prahara

720p-thailandindonesia
Yandi Munawar (tengah) berebut bola dengan pemain Thailand, Artit Daosawang (kiri) dan Narubadin Weerawatnodom (kanan)

Menjadi satu-satunya harapan pesepakbolaan Indonesia setelah dijatuhi sanksi oleh FIFA, Indonesia U-23 berangkat ke Singapura demi gelar juara setelah dalam dua edisi SEA Games terakhir hanya mampu menempati juara dua. Juga menjadi ajang pembuktian, bahwa Indonesia masih mampu juara meskipun dijatuhi sanski oleh FIFA.

Pada laga pertama, tim Garuda Muda sempat takluk 4-2 dari Myanmar. Memang harus diakui, Myanmar memiliki pemain-pemain muda yang berkualitas, bahkan tim U-20 nya bertandang ke Selandia Baru untuk mengikuti turnamen Piala Dunia U-20 yang pada edisi sebelumnya dijuarai oleh Paul Pogba dkk. Pada laga kedua dan ketiga, Indonesia menang mudah. 6-1 atas Kamboja dan 2-0 atas Filipina. Kegemilangan Indonesia U-23 di babak grup sempat menimbulkan decak kagum dari pecinta sepakbola tanah air, yang berharap menjadi juara meskipun terkena sanksi FIFA.

Pada laga terakhir babak grup, laga hidup mati Indonesia melawan tuan rumah Singapura semakin membakar optimisme para pemain juga para pendukung Indonesia. Gol Evan Dimas memastikan Indonesia lolos ke semi final mendampingi Myanmar, menyingkirkan tuan rumah dalam dua edisi berturut-turut, sampai membuat pelatih Singapura U-23, Aide Iskandar Sahak mengundurkan diri dari jabatannya. Pujian demi pujian dilayangkan dari pendukung serta pihak lawan yang sudah mewaspadai pemain-pemain muda Indonesia. Sujud syukur di lapangan Stadion Jalan Besar, Singapura atas keberhasilan melaju ke semi final dan berhadapan dengan raksasa Asia Tenggara, Thailand.

Pada SEA Games 2013, Indonesia dilumat Thailand 4-1 di babak grup sementara di final takluk 1-0 dan membuat Indonesia harus menjadi runner up (lagi). Sementara di Asian Games 2014 di Korea Selatan, secara mengejutkan Indonesia benar-benar dilumat habis oleh Thailand. 6-0. Luar biasa, sangat di luar dugaan. Thailand memang sedang ‘berlari’ di dunia sepakbolanya. Menjuarai Piala AFF 2014 dan menjadi juara 4 dalam Asian Games 2014. Naturalisasi yang tidak sembarangan, Charyl Chappuis pernah bermain bersama Swiss U-20 dan Tristan Do yang pernah beberapa kali merasakan Ligue 1. Charyl Chappuis bahkan pernah merasakan gelar juara Piala Dunia U-17 bersama Swiss U-17 dan tak hanya berperan sebagai cadangan, Charyl bermain sebanyak 7 pertandingan di turnamen tersebut.

Kembali ke SEA Games 2015, Thailand kembali mencukur habis tim Garuda Muda untuk yang ketiga kalinya. Skor 5-0 terpampang di papan skor Stadion Nasional Singapura membuat kecewa setelah gagal juara juga atas sanksi FIFA. Namun, perjuangan Indonesia belum selesai, masih ada perebutan medali perunggu melawan Vietnam yang takluk 2-1 atas Myanmar. Hasilnya? Skor yang sama ketika melawan Thailand. 5-0. deja vu. Entah disengaja ataupun tidak, dua hasil tersebut menunjukkan Indonesia seperti begitu lemah, peta kekuatan sepakbola Asia Tenggara begitu timpang.

Dua hasil telak di SEA Games 2015: 5-0 melawan Thailand dan Vietnam. Takluk 6-0 atas Thailand dan 4-1 atas Korea Utara di Asian Games 2014. Mencatatkan rekor kekalahan timnas senior: 10-0 kalah atas Bahrain di pertandingan terakhir putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 membuat publik heran. 5 kekalahan telak tersebut berada di pelatih yang sama: Aji Santoso. Apa yang membuat PSSI menunjuk Aji Santoso dalam keikutsertaan Indonesia di sebuah turnamen akbar?

Pengaturan skor. Kabar terakhir yang menjadi headline media sepakbola memancing kemarahan pendukung sepakbola Indonesia. Sudah jatuh, teritimpa tangga. Sudah disanksi FIFA, masih ada saja oknum yang mau semakin merusak kondisi pesepakbolaan Indonesia. Entah Indonesia terlibat sebagai yang memberi uang atau yang diberi uang, uang memang membutakan. Prestasi digadaikan demi uang. Tim Advokasi tak segera melaporkan kasus ini karena ‘laporan belum bisa dipercaya sepenuhnya’. Tapi, Timor Leste yang mengalami kasus yang sama langsung melaporkan kepada kepolisian Singapura yang terkenal tanpa kompromi kepada siapapun. Mau bikin bangga aja aja halangannya.

Korupsi memang sudah mendarah daging di negeri ini sekarang, menggantikan keramah-tamahan penduduknya yang dikenal seantero dunia sebagai negara teramah. Mungkin, lambat laun penduduk semakin individualistis dan semakin materialistis. Uang, uang, dan uang. Korupsi yang dahulu hanya terjadi di pemerintahan, mulai menambah akarnya sampai ke sepakbola, olahraga, dan apapun itu yang bersifat positif dan berambisi untuk mengharumkan nama bangsa. Ambisi untuk mengharumkan nama bangsa, untuk menunjukkan Indonesia punya bakat, Indonesia punya kemampuan, Indonesia tak hanya sekedar Bali, Indonesia bukan hanya hutan hujan tropis, Indonesia bukan hanya beragam suku, budaya, etnis, bahasa, Indonesia bukan hanya ladang uang bagi negara kapitalis.

Digadaikan dengan uang demi kekayaan satu pihak. Mafia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s