AFF Suzuki Cup 2014: Murid Menjadi Guru

image
Philip Younghusband (10) berduel dengan Rizky Pora (11)

Hasil baik ketika berhasil menahan imbang tuan rumah, Vietnam 2-2 malah menurun di laga selanjutnya. Indonesia harus bertekuk lutut atas tim underdog Asia Tenggara sejak 2010, Filipina. Perlu digarisbawahi, Filipina adalah tim yang mengalami kekalahan terbesar atas Indonesia 2 kali dengan margin 12 gol. 12-0 pada 1972 dan 13-1 pada 2002. Skor 4-0 terpampang di papan skor Stadion My Dinh, Hanoi. Skor ini menandakan, sepakbola Filipina sedang berlari, berlari sangat cepat hingga menduduki peringkat 129 FIFA dan peringkat pertama zona Asia Tenggara. Berbeda dengan Indonesia yang seperti jalan, jalan di tempat, dan berhenti. Tanpa pembenahan.

Filipina terlebih dahulu unggul melalui penalti pemain keturunan Inggris yang pernah menimba ilmu bersama Chelsea, Philip Younghusband pada menit ke-15 menyusul pelanggaran Firman Utina terhadap Misagh Bahadoran. Indonesia seperti bermain tanpa pola, umpan-umpan jauh tak terukur dilakukan lini belakang dan tengah Indonesia. Permainan indah sepertinya harus ditekankan kepada tim ketimbang mencetak gol. Indonesia bukannya menyamakan kedudukan, malah kembali kebobolan pada menit ke-52 oleh tendangan luar kotak penalti Manuel Ott.

Pada menit ke-68 bek Indonesia dianggap melakukan backpass kepada Kurnia Meiga wasit Fahad al Marri asal Qatar memberikan tendangan bebas. Kurnia Meiga belum berdiri di gawangnya, Martin Steuble langsung menendang bola ke gawang yang kosong. Sebuah gol yang sangat konyol dialami oleh Indonesia, sangat mudah diakali.

Indonesia kembali dipermalukan pada menit ke-79 oleh Robert Gier. Tandukannya membentur tiang gawang dan bola kembali jatuh ke kakinya. Menendang bola di posisi badan yang masih tersungkur di tanah setelah menanduk bola.

Apakah Filipina menjadi ‘monster’ hany karena naturalisasi? Lihatlah Indonesia: Irfan Bachdim, Cristian Gonzales, Diego Michiels, Victor Igbonefo, Greg Nwokolo, Sergio van Dijk, Jhon van Beukering, Tonnie Cussel, Stefano Lilipaly, Kim Kurniawan, dll. Apakah mereka semua memberikan kontribusi berarti bagi Indonesia? Mungkin hanya Irfan, Gonzales, dan Igbonefo yang bermain baik. Van Dijk belum juga mencetak gol untuk tim Garuda, padahal ia pernah menyabet gelar Top Scorer Liga Australia bersama Adelaide United. Diego Michiels terjerat kasus kriminal. Bahkan 4 nama terakhir sama sekali tidak terdengar sekarang. Hanya Lilipaly yang masih berusia emas dan sangat berpotensi. Ia kini bermain di Consodale Sapporo saat sebelumnya pernah bermain di Eredivisie bersama FC Utrecht dan Eerste Divisie bersama Almere City. Sementara yang lainnya tinggalah angin lalu.

Pemain-pemain naturalisasi biasanya berdarah Eropa dan Amerika Selatan, kecuali Greg dan Igbonefo. Perawakan yang tampan menjadikan mereka menjadi pujaan para gadis tanah air dan ‘lupa daratan’, lupa akan tugasnya sebagai atlet. Walaupun Irfan dan Gonzales sekarang kembali setelah mengalami ‘kematian’ karir bersama timnas.

Kita lihat Filipina, naturalisasi besar-besaran dilakukan secara serius dan profesional. Neil Etheridge bermain di Premier League, Paul Mulders bermain di Eredivisie, dan Roland Muller di Swiss Super League. Serta Martin Steuble di MLS. Lalu menunjuk pelatih-pelatih berkualitas untuk mengolah bakat mereka dan melebur menjadi satu tim Azkals. Gaya permainan ala Eropa membuat Filipina menjadi ditakuti akhir-akhir ini. Peluang Filipina menorehkan tinta emas di sepakbola Asia sangat besar. Koefisien tim Filipina di AFC belum cukup untuk mengikuti kualifikasi yang menghadapi tim dari Asia Timur dan Timur Tengah. Maka, AFC Challenge Cup, yang hanya diikuti tim sekaliber Nepal, Kyrgyzstan, Tajikistan, Laos, dll. Akan mengikutsertakan Filipina dalan Piala Asia jika menjuarai. Namun pada kenyataannya, pada edisi terakhir, Filipina takluk di laga final melawan negara yang sedang berperang melawan Zionis, Palestina yang akhirnya menggemakan nama Palestina di Asia.

Filipina kini menjuarai grup A sekaligus menjadi tim pertama yang pulang ke negaranya membawa tiket semifinal.

Ibaratnya, 11 pesepakbola terbaik jika dipimpin oleh pelatih yang kurang bagus, hasilnya akan kurang bagus. 11 pesepakbola jalanan jika dilatih oleh pelatih terbaik akan menjadi tim terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s