Permata Asia, Sisa Kejayaan Jalur Sutra

image
Masjid Poi Kalon, Bukhara, Uzbekistan

Jika disuruh menyebutkan negara-negara di Asia, mungkin kita hanya menyebut Asia Tenggara, Asia Timur, Timur Tengah, atau Asia Selatan. Jarang menyebut Asia Tengah, bahkan ada saja yang belum pernah mendengar kelima negara ini: Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan.

Kelima wilayah ini sempat menjadi bagian dari zaman keemasan Jalur Sutra. Mereka terkenal sebagai bangsa nomaden yang tinggal berpindah-pindah. Kelima negara ini belum terbentuk pada zaman itu, mereka melebur menjadi satu di bawah gemilangnya perdagangan antara Cina dan Arab, sampai dikuasai oleh Rusia dan melebur di bawah bendera merah dengan palu-arit di kiri atas, bendera Uni Soviet.

Rusia, sebagai ‘ketua’ dari Uni Soviet akhirnya membagi Asia Tengah menjadi 5 negara berdasarkan ras mereka: Kazakh, Kirghiz, Tajik, Turkmen, dan Uzbek. Seluruh penghuni Asia Tengah menyamakan detak jantung, denyut nadi, jati diri mereka dengan kamerad di Rusia. Mengubah nama mereka yang berbau Islam menjadi berbau Rusia bercampur Islam. Mempelajari bahasa Rusia dan tak lagi menulis Arab, melainkan huruf sirilik, huruf Rusia. Nama -stan melekat di belakang nama ras mereka.

Kejayaan masa lalu mereka memudar, menghilang di bawah Soviet. Mereka yang menyembah Tuhan yang Mahakuasa, harus memuja pemimpin mereka: Joseph Stalin dan Vladimir Lenin. Masjid-masjid sebagai penyuci iman berubah menjadi gudang senjata. Rakyat dicuci otak, kehilangan jati diri sebagai orang Kazakh, orang Kirghiz, orang Turkmen, orang Tajik, dan orang Uzbek, menjadi orang Rusia, orang Soviet.

Sampai pada 1992, kelima negara ini merdeka dari Soviet, bersama Armenia, Azerbaijan, Georgia, Ukraina, Moldova, Latvia, Lithuania, Estonia, dan Belarusia. Sudah berjati diri sebagai orang Rusia, mereka harus lagi-lagi menjadi jati diri. Apakah aku orang Kazakh atau orang Kirghiz?
Atau orang Uzbek, Turkmen, atau mungkin Tajik? Mereka dipisahkan oleh garis buatan tangan Rusia dan tak bisa kembali melebur seperti zaman Jalur Sutra.

Kazakhstan, bangga sebagai negara terkaya, termaju, termakmur, dan terluas daripada saudara nya. Dengan pertumbuhan ekonomi 9% per tahun pada 2011, negara ini menjadi kapitalis di antara padang rumput, menjadi gedung pencakar langit di antara rumah kumuh, menjadi konglomerat di antara gelandangan. Negara ini menjalin hubungan dekat dengan induknya, Rusia. Seperti masih meberlakukan huruf cryllic dan bahasa Rusia. Namun, kekhasan Kazakh sangatlah pudar di negeri ini, seperti pudarnya kekhasan Betawi di kota Jakarta. Semua orang berbicara bahasa Rusia, yang bagi mereka melambangkan status sosial yang tinggi, intelegensi, dan kepandaian, seperti bahasa Inggris dalam dunia internasional. Semakin ke selatan, semakin Kazakh, semakin hangat, orang dan iklimnya. Semakin ke utara, semakin Rusia, semakin dingin, orang dan iklimnya.

Kyrgyzstan, negara bangsa Kirghiz menjadi salah satu yang termiskin dan terkecil. Berbanding terbalik dari lagu kebangsaannya yang terdengar penuh semangat dan seperti menunjukkan kejayaan. Sama seperti Kazakhstan, masih memberlakukan bahasa Rusia dan huruf sirilik.

Tajikistan, seperti negara yang bisa lepas dari cengkraman penjajah, tapi tidak bisa lepas dari masa lalu. Ismail Somoni, ikon mereka menjadi primadona di negeri ini. Nama mata uang dan patungnya tersebar di penjuru negeri. Mahkota Somoni terpajang di bendera merah putih hijau Tajikistan. Mereka membangga-banggakan Samarkand dan Bukhara yang penuh sejarah dan gemilangnya masa lalu bangsa Tajik, yang sebenarnya sekarang adalah wilayah Uzbekistan. Semua karena ulah sang induk, Rusia.

Turkmenistan, negara dengan pemimpin yang agak ‘aneh’. Berbeda dengan saudaranya, negara ini menghapus hal-hal yang berbau Rusia, namun tidak dengan pemujaan pemimpin. Sang Turkmenbashi disembah layaknya Tuhan oleh rakyatnya, patung emasnya bertebaran di mana-mana. Pemimpin Turkmen seperti menjadi wakil Tuhan di dunia, apakah seperti Sri Paus? Patung emas di mana-mana, bensin, listrik, dan air gratis, harga bensin hanya sekitar Rp 300 per liter. Istana, masjid, dan patung berlapis marmer di mana-mana. Terlihat sangat kaya bukan? Namun sikap dari sang presiden yang memilih untuk menutup diri layaknya Korea Utara membuat nama negeri ini samar-samar. Negeri ini ‘fobia’ kamera, di mana tidak boleh ada orang yang memotret keseharian Turkmenistan. Rakyat seperti gembira dalam dunianya sendiri, dunia Turkmenistan, tanah Turkmenistan.

Uzbekistan, kejayaan Islam di negeri ini begitu kental. Perlahan negeri ini menghapus hal-hal berbau Rusia. Kota Bukhara menjadi salah satu kota suci Islam. Menjadi negara yang paling ‘tenteram damai’ dari saudaranya.

Seperti permata yang tersembunyi di padang rumput dan gurun. Kejayaan kelima negara ini begitu gemilang lalu memudar di bawah panji-panji Soviet dan sekarang mereka bangkit kembali mencari jati diri mereka serta berharap kegemilangan mereka akan kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s